Ilmu Titen - CARITAU and Find The Truth
News Update
Loading...

Thursday 30 November 2023

Ilmu Titen

ILMU TITEN


Ada kearifan lokal yang hanya bisa dihayati dan diamalkan oleh para gondhes. Salah satunya adalah kemampuan mengetahui sesuatu berdasarkan keajegan gejala alam yang tampak. Ilmu titen, kata orang desaku.

Jelas, dijejeli gelas.. ha ha, titen is penting. Makanya, orang desaku kalau menyumpahi anaknya yang mbeling, gini, "Titenana, sesuk gedhe dadi manten kowe ya!" Laah, kok le penuk. Duda keling kesampluk sapi, bandha mbeling entuk rabi! Akeh sing gelem, ndhes!

Titen paling jamak ya terkait permanukan. Jika ada burung prenjak berbunyi ngganter, itu tandanya mau ada tamu. Gagak berkaok-kaok atau manuk culik-tuhu mengitari desa, mau ada orang tinjau akhirat. Ayam jago berkukuruyuk tengah malam, ada perawan hamil! 

"Kalau ada suara kukuruyuk jam sembilan pagi?" tanyaku.

"Nah, itu pasti Lehun nggak dikasih sarapan sama simboknya, ya kan?" sahut Mingan.

"Wak wak wak, ho oh!" jawab Lehun sambil nyengir.

Baidewei, aku amat rajin niteni gejala alam. Terpaksa soale, he he. Kalau mau berangkat sekolah di musim hujan, aku selalu lihat awan dulu. Sambil nyanyi dong, "Kulihat awan, seputih kapas, arak-berarak, di langit luas..."

Kalau awannya berbentuk sisik, biasanya hari akan cerah. Kalau seperti gumpalan putih, hujan akan rintik. Kalau seperti kapas tapi warnanya hitam, nah biasanya hujan akan turun lebat.

"Kalau awannya campuran, gimana?" tanya Lehun.

"Tergantung. Kalau sama mie, namanya bakso. Kalau sama sambel kacang, namanya pecel," sahutku. Mangkel owgh, awan kok campuran, memange badminton?

Asal tahu saja, kalau laron sudah keluar beterbangan dari sarangnya, artinya musim hujan sudah benar-benar dimulai. Kami biasanya menindaklanjuti dengan menanam jagung rame-rame. Yang ada lagunya "ayo kawan" itu lho. Yang syair versi gondhesnya, "Cangkul cangkul pak tani macul, kathoke ucul manuke mabur", hia ha ha!

Oya, momen nanam jagung itu penting banget loh, sampai-sampai sekolah pun "terpaksa" diliburkan. Ha nggak libur piye, wong murid dan gurunya turun ke ladang dan kebon semua! Cah kota mungkin bertakon-takon, mosok sih? Tapi bagi Yulirahayu Istiawan dkk, begitulah adanya!

Jika tunas lempuyang mulai menyembul dari dalam tanah, sudah pasti hujan akan rutin turun. Dan jika daun lempuyang sudah selebar jari, berarti sudah masuk mangsa kesanga (musim sembilan). Hujan pasti akan turun amat deras, diikuti petir besar-besar. Itulah harpetnas, hari ngumpet nasional. Nggak ada yang berani keluar rumah, takut dicokot gludhug!

Sebaliknya, jika sore hari menjelang senja, tongeret berbunyi, maka bisa dipastikan awal musim kemarau akan segera tiba. Debit air kali akan mengecil dan berangsur jernih. Ini adalah waktu pembukaan harblonas, hari ciblon nasional. Kami akan menjadi sunan jagakali sampek tubuh hitam legam ting plethek, ha ha ha!

Kalau lumut kali sudah mulai menghijau, itulah saatnya ikan kawin. Kami ramai-ramai pasang ijahan (perangkap ikan kawin/mijah) di kali. Yang cowok pindah tidur di pinggir kali demi sekilo dua kilo wader yang perutnya gembung penuh telur. Musim mijah ini berakhir saat air kali mulai berangsur coklat. 

Nggak cuma makhluk nyata, gondhes juga mampu mendeteksi keberadaan makhluk goib dari gejalanya. Jika ada tempat yang saat dilewati mak ces.. terasa sejuk, biasanya di situ ada penghuninya. Atau tempat yang banyak sarang laba-labanya, itu juga kaporit bangsa halus. 

"Apalagi diikuti bulu lengan bergidik, patut didugang ada sing mbaureksa di situ," kata Mingan. Ha ha ha, memang patut didugang dia!

"Eh, Ngan, kemarin kamu liwat di depanku kok bulu ketekku njegrak, tanda apa itu?" tanya Lehun.

"Normal. Reaksi tuyul melihat manusia memang gitu, wak wak wak!" sahut Mingan ngakak.

Terpaksa dweh, aku ikut ngakak kemasan jumbo, melihat Lehun salah tingkah sambil garuk-garuk kepalanya yang gundul.

"Eh, Ngemeng-ngemeng tak titeni, kalau Kemis siang hujan ngrecih begini, besoknya pasti..."

"Pasti apa, Ngan?" seru kami penasaran.

"Jumat!"

"Bleguuug!" teriak kami sambil rame-rame ngruwesi Mingan.

Btw, sampai saat ini nggak ada satu pun kearifan lokal yang mampu mendeteksi di mana duit berada. Arif wis mulih soale! Jadi maafkeun jika sampai sekarang pun masih banyak gondhes yang melarat.

"Taktiteni, angger dirimu rajin mendekat dengan wajah nyremimih, pasti lagek ra duwe dhuwit!" goda Mingan.

"Taktiteni juga, angger kowe rajin omong ngono kuwi, pasti mlarat juga!" balas Lehun.

Hia ha ha.. satu satu, ndhes!

Sumber: Grup Kagama 

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done